PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Semester VI (Enam)
Dosen Pengampu : Drs. Sutiono, M. Pd

Disusun
Oleh : Neneng Puput . 3120120020
Khoirudin . 3120120060
Arif Rahman . 3120120105
UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH
JAKARTA TIMUR
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah tentang Perkembangan Psikososial ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bpk Sutiono,
M. Pd selaku Dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Perkembangan Psikososial. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.
Jakarta, Mei 2015
Penyusun
Kelompok
VI
DAFTAR
ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ……………………………………………..……………….. 1
B.
Rumusan Masalah ……………………………………………..……………….. 1
C.
Saran ………………………………………………………..……………………..
1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Psikologi Perkembangan ……………………………………………… 2
B.
Tujuan Psikologi Perkembangan ……………………………………………… 3
C.
Tahap Perkembangan Psikososial ……………………………………………… 3
1. Trust vs
Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan) ………………………………
3
2. Otonomi vs
Perasaan Malu dan Ragu-ragu ………………………………
5
3. Inisiatif
vs Kesalahan ………………………………………………………
7
4. Kerajinan
vs Inferioritas ……………………………………………………… 8
5. Identitas
vs Kekacauan Identitas ………………………………………………
10
6. Keintiman
vs Isolasi ………………………………………………………
11
7. Generativitas
vs Stagnasi ……………………………………………………… 13
8. Integritas
vs Keputusasaan ………………………………………………
14
BAB III
A.
Kesimpulan ……………………………………………………………………… 15
B.
Saran ………………………………………………………………………………
15
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………… 16
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Istilah perkembangan merujuk pada bagaimana orang tumbuh,
menyesuaikan diri, dan berubah sepanjang perjalanan hidup mereka, melalui
perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosional,
perkembangan kognitif, dan perkembangan bahasa.
Ketika anak-anak meningkatkan kemampuan kognitif mereka,
mereka juga mengembangkan konsep diri, cara berinteraksi dengan orang-orang
lain, dan sikap terhahadap dunia ini. pemahaman tentang perkembangan pribadi
dan sosial ini sangat berperan penting bagi kemampuan guru memotivasi,
mengajar, dan berhasil berinteraksi dengan siswa dalam berbagai usia.
Sama seperti perkembangan kognitif, perkembangan pribadi dan
sosial sering digambarkan dari sudut tahap-tahap. Kita berbicara tentang “usia
dua tahun yang mengerikan”, bukan “usia satu tahun yang mengerikan”. Atau usia
tiga tahun yang mengerikan, dan ketika seseorang beraksi dengan tidak masuk
akal dan egois, kita menuduh orang itu, kita menuduh orang itu “berperilaku
seperti anak berusia 2 tahun”.
Kata-kata remaja dan belasan tahun diasosiasikan dalam
budaya barat dengan sikap memberontak, krisis identitas, pemujaan pahlawan, dan
kesadaran seksual. Semua asosiasi ini mencerminkan tahap-tahap perkembangan
yang kita yakini dialami semua orang. Bagian ini berfokus pada teori
perkembangan pribadi dan sosial yang dilaporkan Erik Erikson, yang merupakan
suatu adaptasi teori-teori perkembangan psikiater besar Sigmund Freud. Karya
Erikson sering disebut teori psikososial, karena karya tersebut menceritakan
prinsip-prinsip perkembangan psikologis dan sosial.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian psikologi perkembangan?
2. Apa
tujuan psikologi perkembangan?
3. Apa
saja tahapan perkembangan psikososial Erikson?
C.
Tujuan
Penulis
Untuk mengetahui apa saja tahap-tahap
perkembangan psikososial Erikson, dengan itu kita dapat mengetahui apa saja
yang harus digunakan dalam menghadapi tahap perkembangan ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Psikologi Perkembangan
Menurut Richard M. Lerner (1976), psikologi perkembangan dirumuskan
sebagai pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi
psikologis sepanjang hidup. Misalnya, mempelajari bagaimana proses berpikir
pada anak-anak usia satu, dua atau lima tahun, memiliki persamaan atau
perbedaan, atau bagaimana kepribadian seseorang berubah dan berkembang dari
anak-anak, remaja sampai dewasa.
Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal
dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini
adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund
Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan.
Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial
Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang
kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego
selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan
dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan
memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif,
inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan
psikososial.
Erikson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang
bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui
oleh manusia. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas.
Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat
sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan
dalam bidang kehidupan. Jika tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu
akan merasa pandai. Jika tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu
akan tampil dengan perasaan tidak selaras.
Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiap orang akan
mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson
berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi
atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi
pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan.
B. Tujuan Psikologi Perkembangan
Menurut Mussen, Conger dan Kagan (1969), dewasa ini
psikologi perkembangan lebih menitikberatkan pada usaha-usaha mengetahui
sebab-sebab yang melandasi terjadinya pertumbuhan dan perkembangan manusia,
sehingga menimbulkan perubahan-perubahan. Oleh sebab itu tujuan psikologi
perkembangan meliputi:
1. Memberikan,
mengukur dan menerangkan perubahan dalam tingkah laku serta kemampuan yang
sedang berkembang sesuai dengan tingkat umur dan yang mempunyai ciri-ciri
universal, dalam arti yang berlaku bagi anak-anak di mana saja dan dalam
lingkungan sosial-budaya mana saja.
2. Mempelajari
perbedaan-perbedaan yang bersifat pribadi pada tahapan atau masa perkembangan
tertentu.
3. Mempelajari
tingkah laku anak pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang
berbeda.
4. Mempelajari
penyimpangan dari tingkah laku yang dialami seseorang, seperti
kenakalan-kenakalan, kelainan-kelainan dalam fungsionalitas inteleknya, dan
lain-lain.
C.
Tahap
Perkembangan
Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson
memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan
di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua
polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh
setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut :
1.
Trust vs
Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust –
mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai
orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi
orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu
kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia
bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda
asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau
menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada
umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah
menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk
hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik
apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan
tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang
kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu
memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan
kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa memberikan rasa
hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka bayi itu
akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial
sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada
didalamnya dapat dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh
seorang bayi terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa
aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa
tersebut bayi belajar untuk mengantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil
dari adanya kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya
serta juga mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap
lingkungannya.
Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan
kepada bayinya, dan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada
hal-hal lain yang membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi
memenuhi keinginan mereka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa
tidak percaya, dan dia akan selalu curiga kepada orang lain.
Hal ini jangan dipahami bahwa peran sebagai orangtua harus
serba sempurna tanpa ada kesalahan/cacat. Karena orangtua yang terlalu
melindungi anaknya pun akan menyebabkan anak punya kecenderungan maladaptif.
Erikson menyebut hal ini dengan sebutan salah penyesuaian indrawi. Orang yang
selalu percaya tidak akan pernah mempunyai pemikiran maupun anggapan bahwa
orang lain akan berbuat jahat padanya, dan akan menggunakan seluruh upayanya
dalam mempertahankan cara pandang seperti ini. Dengan kata lain, mereka akan
mudah tertipu atau dibohongi. Sebaliknya, hal terburuk dapat terjadi apabila
pada masa kecilnya sudah merasakan ketidakpuasan yang dapat mengarah pada
ketidakpercayaan. Mereka akan berkembang pada arah kecurigaan dan merasa
terancam terus menerus. Hal ini ditandai dengan munculnya frustasi, marah,
sinis, maupun depresi.
Pada dasarnya setiap manusia pada tahap ini tidak dapat menghindari
rasa kepuasan namun juga rasa ketidakpuasan yang dapat menumbuhkan kepercayaan
dan ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal inilah yang akan menjadi dasar kemampuan
seseorang pada akhirnya untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Di mana
setiap individu perlu mengetahui dan membedakan kapan harus percaya dan kapan
harus tidak percaya dalam menghadapi berbagai tantangan maupun rintangan yang
menghadang pada perputaran roda kehidupan manusia tiap saat.
Adanya perbandingan yang tepat atau apabila keseimbangan
antara kepercayaan dan ketidakpercayaan terjadi pada tahap ini dapat
mengakibatkan tumbuhnya pengharapan. Nilai lebih yang akan berkembang di dalam
diri anak tersebut yaitu harapan dan keyakinan yang sangat kuat bahwa kalau
segala sesuatu itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi mereka masih
dapat mengolahnya menjadi baik.
Pada aspek lain dalam setiap tahap perkembangan manusia
senantiasa berinteraksi atau saling berhubungan dengan pola-pola tertentu
(ritualisasi). Oleh sebab itu, pada tahap ini bayi pun mengalami ritualisasi di
mana hubungan yang terjalin dengan ibunya dianggap sebagai sesuatu yang keramat
(numinous). Jika hubungan tersebut terjalin dengan baik, maka bayi akan
mengalami kepuasan dan kesenangan tersendiri. Selain itu, Alwisol berpendapat
bahwa numinous ini pada akhirnya akan menjadi dasar bagaimana orang
menghadapi/berkomunikasi dengan orang lain, dengan penuh penerimaan,
penghargaan, tanpa ada ancaman dan perasaan takut. Sebaliknya, apabila dalam
hubungan tersebut bayi tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu akan
merasa terasing dan terbuang, sehingga dapat terjadi suatu pola kehidupan yang
lain di mana bayi merasa berinteraksi secara interpersonal atau sendiri dan
dapat menyebabkan adanya idolism (pemujaan).
Pemujaan ini dapat diartikan dalam dua arah yaitu anak akan memuja dirinya
sendiri, atau sebaliknya anak akan memuja orang lain.
2.
Otonomi vs
Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya
kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas
tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan,
bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di
pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat,
sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular
stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia
18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini
adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan
ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya
terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian.
Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka
anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata
lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya
dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak
usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak
tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan. Pada
usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya, sehingga
melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap
pengalaman-pengalaman baru yang berorientasi pada suatu
tindakan/kegiatan yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol
diri sendiri dan juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat
anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk
menyentuh benda-benda lain.
Di lain pihak, anak dalam perkembangannya pun dapat menjadi
pemalu dan ragu-ragu. Jikalau orang tua terlalu membatasi ruang
gerak/eksplorasi lingkungan dan kemandirian, sehingga anak akan mudah menyerah
karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak seharusnya bertindak
sendirian.
Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu
mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata
lain, keseimbanganlah yang diperlukan di sini. Ada sebuah kalimat yang
seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya
yakni “tegas namun toleran”. Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar
adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri
dan harga diri. Sedikit rasa malu dan ragu-ragu, sangat diperlukan bahkan memiliki
fungsi atau kegunaan tersendiri bagi anak, karena tanpa adanya perasaan ini,
anak akan berkembang ke arah sikap maladaptif
yang disebut Erikson sebagai impulsiveness
(terlalu menuruti kata hati), sebaliknya apabila seorang anak selalu memiliki
perasaan malu dan ragu-ragu juga tidak baik, karena akan membawa anak pada
sikap malignansi yang disebut Erikson
compulsiveness. Sifat inilah yang
akan membawa anak selalu menganggap bahwa keberadaan mereka selalu bergantung
pada apa yang mereka lakukan, karena itu segala sesuatunya harus dilakukan
secara sempurna. Apabila tidak dilakukan dengan sempurna maka mereka tidak
dapat menghindari suatu kesalahan yang dapat menimbulkan adanya rasa malu dan
ragu-ragu.
Jikalau dapat mengatasi krisis antara kemandirian dengan
rasa malu dan ragu-ragu dapat diatasi atau jika diantara keduanya terdapat
keseimbangan, maka nilai positif yang dapat dicapai yaitu adanya suatu kemauan
atau kebulatan tekad. Meminjam kata-kata dari Supratiknya yang menyatakan bahwa
“kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu menerima peraturan hukum dan
kewajiban”.
Ritualisasi yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu
dengan adanya sifat bijaksana dan legalisme.
Melalui tahap ini anak sudah dapat mengembangkan pemahamannya untuk dapat
menilai mana yang salah dan mana yang benar dari setiap gerak atau perilaku
orang lain yang disebut sebagai sifat bijaksana. Sedangkan, apabila dalam pola
pengasuhan terdapat penyimpangan maka anak akan memiliki sikap legalisme yakni
merasa puas apabila orang lain dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak
yang menang sehingga anak akan merasa tidak malu dan ragu-ragu walaupun pada
penerapannya menurut Alwisol mengarah pada suatu sifat yang negatif yaitu tanpa
ampun, dan tanpa rasa belas kasih.
3.
Inisiatif
vs Kesalahan
Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya
kecenderungan initiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa
kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa
kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia
mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki
perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau
berbuat.
Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap
kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap
bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3
sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini
ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan
kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar
dan mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari
kemampuan-kemampuan baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif
merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata,
sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong
anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan
terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan
karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya
yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah
atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang
mereka rasakan dan lakukan.
Ketidakpedulian (ruthlessness)
merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal ini terjadi saat anak memiliki
sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu minim. Orang yang memiliki
sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, yaitu apabila mereka mempunyai
suatu rencana baik itu mengenai sekolah, cinta, atau karir mereka tidak peduli
terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi rencananya apa dan
siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapai tujuannya itu.
Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola asuh yang salah
yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malignansi yaitu
akan sering berdiam diri (inhibition).
Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk
mencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akan
merasa terhindar dari suatu kesalahan.
Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat
diseimbangkan, maka akan lahir suatu kemampuan psikososial adalah tujuan
(purpose). Selain itu, ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa
dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam pengertiannya dipahami sebagai suatu
interaksi yang terjadi pada seorang anak dengan memakai fantasinya sendiri
untuk berperan menjadi seseorang yang berani. Sedangkan impersonasi dalam
pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan oleh seorang anak namun tidak
berdasarkan kepribadiannya. Oleh karena itu, rangakain kata yang tepat untuk
menggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa keberanian, kemampuan untuk
bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterbatasan dan
kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.
4.
Kerajinan
vs Inferioritas
Masa
Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority.
Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak
sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk
mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak
lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya
kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan
kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
Tahap
keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi pada usia sekolah
dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam
tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan
menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area
sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah,
sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong,
guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain
sebagainya.
Tingkatan ini
menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya
sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana
yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Anak
pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah
itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat
mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses
karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas),
sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu,
peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang
menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang
dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih
banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya
tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka.
Kecenderungan
maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu
besar yang mana peristiwa ini menurut Erikson disebut sebagai keahlian sempit.
Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin
malignansi yang disebut dengan kelembaman. Mereka yang mengidap sifat ini oleh
Alfred Adler disebut dengan “masalah-masalah inferioritas”. Maksud dari
pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil pada usaha pertama,
maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini sama seperti
tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan kedua karateristik yang
ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam
diri setiap pribadi yakni kompetensi.
Dalam
lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap
sebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan
mempergunakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku pada
aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal
dengan istilah formal. Sedangkan pada
pihak lain jikalau anak mampu mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan
cara atau metode yang sesuai dengan aturan yang ditentukan untuk memperoleh
hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku
pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menyebabkan relasi dengan orang
lain menjadi terhambat. Peristiwa ini biasanya dikenal dengan istilah formalism.
5.
Identitas
vs Kekacauan Identitas
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai
pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja
(adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion.
Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan
kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan
memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan
membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali
sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh
lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan
identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan
dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya
mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap
peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda
merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini. Menurut
Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui
tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya
identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang
terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak
hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang ada
dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap
sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di
masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada
tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik
dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga
anak pada jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam
kehidupan orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan
siapakah dirinya. Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya
yang merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego
telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada
pada tahap terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu
diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau
tidak berlangsung secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami
siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya,
inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas.
Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego
lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak
menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam
lingkungannya. Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme.
Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran, cara
maupun jalannyalah yang terbaik. Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih
kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebut malignansi ini
dengan sebutan pengingkaran. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari
keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat akibatnya mereka akan
mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang
menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui
mereka sebagai bagian dalam kelompoknya.
Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat
dipetik dalam tahap ini, jikalau antara identitas ego dan kekacauan identitas
dapat berlangsung secara seimbang, yang mana kesetiaan memiliki makna
tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan standar yang berlaku di tengah
masyarakat terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, dan ketidakkonsistennya.
Ritualisasi yang nampak dalam tahap adolesen ini dapat
menumbuhkan ediologi dan totalisme.
6.
Keintiman
vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap
individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang
berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya
kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu
memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan
kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan
yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini
timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang
tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan
dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode
diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya
disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan
kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan
orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain.
Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila
seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi
dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi.
Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini
ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka
dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala
bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan
orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi
Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk
mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat,
selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari
kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi
harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta.
Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala
bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta
yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun
juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.
Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya
afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan
mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat,
kekasih, dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang
terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.
7.
Generativitas
vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan
ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa
(Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai
dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari
perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup
banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan
kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala
macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas.
Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.
Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam
terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas
untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat
melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi).
Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian
terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat
dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda
dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang
dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli,
sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu
malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan
secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya
ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.
Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya
keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif
yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi
generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang
terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia
dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa
merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami
serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa,
sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung
dengan baik dan menyenangkan.
8.
Integritas
vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia
senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas.
Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity –
despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas
pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik
pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang
mendekati akhir.
Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan
yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali
kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa.
Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena
usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali
menghantuinya.
Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini
berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi
tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus
asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut
pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari
lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat
berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika
di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson
terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh
karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini
akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang
mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat.
Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan
dengan kecemasan dapat menyebabkan maladaptif yang biasa disebut Erikson
berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan
di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan
dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap
menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali
kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan
kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu
sikap kebijaksanaan.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Erikson yakni bahwa ego kita merupakan sebuah kekuatan
positif yang menciptakan identitas diri, sebuah pengertian tentang “aku”.
Sebagai pusat kepribadian, ego membantu kita beradaptasi dengan beragam konflik
dan krisis kehidupan dan menjaga kita dari kehilangan individualitas di hadapan
daya-daya sosial. Selama masa kanak-kanak, ego lemah, fleksibel, dan rapuh,
tetapi pada masa remaja dia harus mulai mengambil bentuk tertentu dan
memperoleh kekuatannya. Di seluruh fase hidup kita, ego menyatukan kepribadian
dan menjaga kita dari ketercabikan. Erikson melihat ego sebagai badan pengorganisasian
yang sebagian bekerja secara bawah sadar untuk mensintesiskan
pengalaman-pengalaman kita di masa kini dengan identitas diri di masa lalu dan
gambaran diri ke depan. Erikson mendefinisikan ego sebagai kemampuan pribadi
untuk menyatukan pengalaman dan tindakan dengan cara yang adaptif (Erikson,
1963).
Erikson (1968) mengidentifikasikan tiga aspek ego yang
saling terkait: ego-tubuh, ideal-ego, dan identitas-ego. Ego-tubuh (body ego) mengacu pada pengalaman-pengalaman dengan
tubuh kita, sebuah cara melihat diri fisik kita sebagai hal yang berbeda dari
milik orang lain. Kita mungkin dapat merasa puas atau tidak dengan cara tubuh terlihat atau berfungsi namun, kita
sadar kalau hanya tubuh ini saja yang kita miliki. Ideal-ego (ego ideal) merepresentasikan imaji-imaji yang kita
miliki tentang diri kita sendiri jika dibandingkan dengan gambar ideal ego yang
lain. Ideal ego bertanggung jawab bagi rasa puas atau tidak, bukan hanya yang
berkaitan dengan diri fisik kita namun, juga dengan seluruh identitas personal
kita. Identitas-ego (ego identity) adalah
imaji yang kita miliki tentang diri kita di beragam peran social yang kita
mainkan. Meskipun remaja biasanya merupakan masa saat ketiga komponen ini
berubah paling cepat, perubahan-perubahan di dalam ego-tubuh, ideal-ego dan
identitas-ego dapat dan selalu terjadi di setiap tahap kehidupan.
B. Saran
Sebagai calon pendidik, kita harusl;ah mengetahui tahap
perkembangan psikososial ini, karna dengan tau mengenai hal ini, maka akan
lebih mudah beradaptasi dengan siswa harup bersikap seperti apa dan bagaimana.
DAFTAR
PUSTAKA
Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology. New Jersey:
Prentice Halln
Gunarsa, Singgih D. 1982. Dasar Teori dan Perkembangan Anak.
Jakarta: Gunung Mulia
Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2013/03/pengertian-teoriperkembangan.html diakses 20 Januari 2014
http://formapsi-unmul.blogspot.com/2012/10/teori-psikososial-erikson-makalah.html diakses 20 Januari 2014
No comments:
Post a Comment