KULTUR
ORGANISASI LEMBAGA PENDIDIKAN
Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen LPAI
Semester
VI (Enam)

Dosen Pengempu : Drs. Abd. Khalis Razak M.Pd
Disusun Oleh : Neneng Puput
(3120120020)
UNIVERSITAS
ISLAM AS-SYAFI’IYAH
JAKARTA
TIMUR
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Kultur
Organisasi Lembaga Pendidikan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Drs. Abd Khalis Razak M.Pd
selaku Dosen mata kuliah Manajemen LPAI yang telah memberikan tugas ini kepada
saya.
Kami
sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Organisasi Lembaga Pendidikan. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Bekasi, April 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang …………………………………………………………………… 1
B.
Rumusan Masalah …………………………………………………………………… 2
C.
Tujuan Penulis …………………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kultur ……………………………………………………………………. 3
B.
Pengertian Organisasi ……………………………………………………………………. 4
C.
Organisasi Lembaga Pendidikan ……………………………………………………. 6
D.
Struktur Organisasi Dalam Pendidikan dan
Pengajaran ……………………………. 8
E.
Kinerja Organisasi Pendidikan …………………………………………………... 10
F.
Iklim dan Budaya Organisasi Pendidikan …………………………………………... 12
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan …………………………………………………………………………... 15
B.
Saran …………………………………………………………………………………...
15
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………...
16
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia adalah makhluk multidimensional. Oleh
karena itu, banyak julukan yang diberikan kepadanya, misalnya sebagai makhluk
ekonomi (homo economicus), makhluk social (homo social), makhluk
berfikir (homo safien), makhluk bekerja atau bermain (homo luden),
makhluk yang suka bersenang-senang (homo hedonism), makhluk yang suka
menggunakan lambing-lambang (homo simbolicum), makhluk yang suka
menindas makhluk lainnya ( homo hominilupus), makhluk iptek, makhluk
imtaq dan makhluk organisasional.[1]
Manusia adalah makhluk organisasi. Oleh karena
itu, begitu ia dilahirkan ke dunia, ia menjadi anggota organisasi genitis yang
disebut anggota organisasi keluarga. Bahkan, organisasi itu sudah ada sebelum
kita dilahirkan karena kelahiran kita juga akibat hasil dari organisasi
perkawinan. Di samping itu, begitu manusia lahir ia juga langsung menjadi
anggota rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi,
dan warga Negara Indonesia, bahkan menjadi warga dunia. [2]
Ketika usia sekolah, manusia memasuki sekolah
dan ia menjadi anggota organisasi sekolah, anggota struktural kelas, pramuka,
organisasi sekolah intra sekolah. Setelah lulus ia kuliah dan menjadi anggota
organisasi di kampusnya. Mungkin pula ia merangkap organisasi keagamaan,
militer, politik, ekonomi, atau bisnis, sosial atau masyarakat, budaya,
keamanan, militer, olahraga, hobi, profesi, dan sebagainya. Akhirnya, setelah
manusia meninggal ia dicatat sebagai anggota organisasi kematian oleh panitia
rukun kematian di tingkat RT.
Jadi, manusia sejak dilahirkan sampai
kematiannya tidak dapat dipisahkan dari organisasi. Manusia adalah
makhluk organisasionalkarena sejak lahir manusia tidak dapat hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain. [3]Manusia
juga makhluk yang memiliki akal dan budi. Dua unsur ini yang membedakan manusia
dengan hewan, tumbuhan dan makhluk Tuhan lainnya. Akal adalah kemampuan (potensi)
yang dimiliki manusia untuk mengetahui, memahami, dan menjelaskan tentang
sesuatu yang ada (on being), termasuk dirinya sendiri. [4]
Hal itulah yang membuat manusia selalu ingin mengetahui, memahami dan selalu
mencari tahu untuk belajar. Manusia belajar untuk diri sendiri dan untuk
diajarkan ke manusia yang lainnya dengan berbagai macam cara mencari pendidikan
sampai cara menyampaikannya yang diatur dalam organizing yang baik.
Dalam mengorganisasikan pendidikan ada banyak
hal yang perlu di perhatikan oleh tenaga pendidik dan administratur (penata usaha, Kamus Umum Bahasa Indonesia) salah satunya
adalah struktural organisasi dalam pendidikan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian Kultur?
2. Apa
Pengertian Organisasi?
3. Apa
itu Organisasi dalam Lembaga Pendidikan?
4. Bagaimana
dan Apa saja yang perlu diperhatikan dalam Struktur Organisasi?
C.
Tujuan
Penulis
Untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen LPAI serta agar mengetahui tentang
organisasi yang ada dalam Lembaga Pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kultur
Kata culture kadang
diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa lain adalah Kata
kebudayaan dalam istilah inggris adalah “culture” yang berasal dari
bahasa latin “colere”yang berarti mengolah, mengerjakan. Kultur juga bisa
disebut faktor penentu paling pokok dari keinginan dan perilaku seseorang.
Makhluk yang lebih rendah umumnya dituntun oleh naluri. Sedangkan manusia,
perilakunya biasanya dipelajari dari lingkungan sekitarnya. Sehingga nilai,
persepsi, preferensi, dan perilaku antara seorang yang tinggal pada daerah
tertentu dapat berbeda dengan orang lain yang berbeda di lingkungan yang lain
pula.
Kebudayaan (kultur) menurut
Taylor adalah totalitas yang komplek yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta
kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat.
Dalam
hal tersebut kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup
bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota
masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan lain kepandaian. Sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan adalah
cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat.(Prof. Dr.
Made Pidarta, 2000 :157)
Kebudayaan (kultur) dapat dikelompokan
menjadi tiga macam yaitu sebagai berikut:
1. Kebudayaan
umum, misalnya kebudayaan Indonesia
2. Kebudayaan
daerah, misalnya kebudayaan, jawa, bali, sunda, nusa tenggara timur, dan
sebagainya.
3. Kebudayaan
populer, suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada
kedua macam kebudayaan terdahulu, yang termasuk kebudayaan populer misalnya
lagu-lagu populer, model film, dan model-model pakaian, dan sebagain
Dalam kebudayaan yang
disebutkan termasuk kepada organisasi dalam pendidikan atau suatu sekolah, asal
proposinya disesuaikan dengan waktu dan tempat. Yang jelas kebudayaan umum
harus diajarkan pada semuah sekolah, sementara itu kebudayaan daerah dapat
dikaitkan dengan kurikulum muatan lokal, jadi berbeda-beda ditiap daerah,
sedangkan kebudayaan populer dapat juga diajarkan proposi yang kecil sebab
kebudayaan itu sedang mencuat, tentu disenangi anak-anak.(Prof. Dr. Made
Pidarta, 2000 :157)
Dalam tiap kelompok,
keluarga, sekolah masyarakat terdapat cara-cara berpikir dan berbuat yang
diterima dan diharapkan oleh setiap anggota kelompok atau masyarakat. Pola
kelakuan yang secara umum terdapat dalam suatu masyarakat disebut kebudayaan.
Kebudayaan meliputi
keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, keterampilan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat, dan kebiasaan manusia, sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan
yang terdiri atas buah pikiran, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan
individu-individu, dipelajari berkat hidup mereka dalam lingkungan sosial. Bagi
individu yang baru lahir kebudayaan merupakan bantuan untuk melatihnyahidup
efektif didunia ini. Generasi baru tidak perlu menemukan segala sesuatu dari
mulanyaakan tetapi dapat belajardari orang-orang yang disekitarnya. Tiap
generasi menyampaikan kebudayaan yang dipelajari dari generasi tua kepada
generasi baru beserta hal-hal barudan perubahan yang terjadi. Maka karena itu
kebudayaan dapat dipandang sebagai kelakuan yang terdapat pada kebanyakan atau
semua dan dipelajari dari sesama anggota masyarakat.(S. Nasution, 1983: 63)[5]
B.
Pengertian
Organisasi
Organisasi didefinisikan secara
bervariasi oleh para ahli yang dilihat dari berbagai sudut pandang,diantaranya:
·
Menurut Mondy dan Premeaux (1995)
menjelaskan:
Organisasi adalah kerjasama
dua orang atau lebih dalam satu keadaan yang terkoordinir untuk mencapai hasil
yang diinginkan.[6]
·
Menurut Oteng Sutisna
Organisasi merupakan
mekanisme yang mempersatukan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan.Definisi
ini menekankan pada mekanisme kerja dalam organisasi untuk mencapai tujuan.
·
Menurut Stepen P.Robbins
Organisasi merupakan kesatuan
sosial yang dikoordinasikan secara sadar,dengan sebuah batasan yang relative
dapat diidentifikasi untuk mencapai suatu tujuan bersama.Definisi ini
menekankan bahwa organisasi adalah suatu system sosial yang perlu
dikoordinasikan ,Batasan organisasi akan berubah sebagaimana tuntutan
lingkungannya sehingga dikatakan “relative”
Didalam organisasi ada
sejumlah orang baik sebagai manajer maupun sebagai anggota, ada struktur,
tujuan-tujuan, aturan dan prosedur, dan yang melaksanakan pekerjaan praktis
adalah anggota.
Maka dengan demikian sebuah
organisasi terdiri dari beberapa unsur yaitu:
a. Ada
kumpulan orang-orang
b. Ada
pembagian kerja atau spesialisasi dalam organisasi
c. Bekerjasama
dimana aktivitas-aktivitas yang terpisah dikoordinir
d. Ada
tujuan bersama yang akan dicapai melalui kerjasama yang terkoordinir
Untuk kelangsungan fungsi organisasi ada beberapa prinsip
dalam rancangan manajemennya, yaitu :
Ø Kesatuan
perintah
Ø Rentang
pengawasan
Ø Pembagian
kerja
Ø Departementalisasi
Struktur organisasi adalah
berisikan kerangka kerja organisasi.Adapun kerangka kerja organisasi adalah
kompleks, sedang dan sederhana.[7][8]
Menurut E.Kast dan James
E.Rosenzweig (1974),struktur diartikan sebagai pola hubungan komponen atau
bagian suatu organisasi.Struktur merupakan system formal hubungan kerja yang
membagi dan mengkoordinasi tugas orang dan kelompok agar tercapai tujuan.
Struktur organisasi
merupakan bentuk dari organisasi secara keseluruhan yang menggambarkan kesatuan
dari berbagai segmen dan fungsi organisasi yang dipengaruhi oelh kondisi
lingkungan, ukuran, jenis teknologi yang digunakan, dan sasaran yang hendak
dicapai. Struktur bersifat relative stabil (tidak berubah) statis dan berubah
lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian.
Menurut Stoner
(1986),struktur organisasi dibangun oleh lima unsur,yaitu:
Ø Spesialisasi
aktivitas
Ø Standarisasi
aktivitas
Ø Koordinasi
aktivitas
Ø Sentralisasi
dan disentralisasi keputusan
Ø Ukuran
unit kerja[9]
C.
Organisasi
Lembaga Pendidikan
Secara
bahasa lembaga adalah suatu organisasi dan pendidikan adalah usaha manusia
dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk menjadi
manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka mengembangkan
potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah, terpadu, dan
berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai sasaran dan
fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan menjadi salah
satu wahana strategis dalam membina sumber daya
manusia berkualitas.
Pendidikan
Islam merupakan sub sistem dari sistem pendidikan
nasional. Karena itu sebagian sub sistem, maka masing- masing lembaga
pendidikan Islam yang ada berfungsi untuk mencapai tujuan lembaga yang
ditetapkan. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam baik pesantren,
madrasah atau sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam memiliki
peranan yang besar bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Peran
yang dijalankan dalam rangka mencapi fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa : “pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab”[10]
Organisasi lembaga
pendidikan adalah suatu organisasi yang unik dan komplek karena lembaga
pendidikan tersebut merupakan
suatu lembaga penyelenggara pendidikan. Tujuannya adalah menyiapkan peserta
didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau
profesional yang dapat menerapkan , mengembangkan , memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan , teknologi, kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan
taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kehidupan nasional.[11]
Organisasi sekolah yang
efektif adalah kelompok-kelompok yang informal, kebutuhan-kebutuhan individu,
dan tujuan birokrasi di pemerintahan dan personel pendidikan di
sekolah berperan secara bersama atau saling berfungsi satu sama lainnya.
Sekolah yang efektif adalah spesifikasi prodesur pengembangan organisasi yang
konsisiten secara aktual terhadap kebutuhan sekolah.
Pengajaran
merupakan aktifitas yang berkaitan dengan penyebaran ilmu
pengetahuan yang meliputi aktivitas
perancangan, pengelolaan, penyampaian bimbingan dan penilaian. Secara
ringkas pengajaran
merupakan proses untuk menyampai dan menyumbang ide-ide . pengajaran dapat
diuraikan sebagai satu cara menyediakan pelajar dan pengetahuan dan kemahiran
yang di perlukan untuk berfungsi dengan baik. Faktor terpenting dalam pengajaran ialah guru
perlu menilai keperluan-keperluan pembelajaran yang spesifik dan mengaplikasi strategi-strategi serta
aktivitas yang sesuai untuk pelajar.[12]
Di
bawah ini adalah beberapa pendapat tentang konsep pengajaran :
ü Menurut
Arbak 1985, pengajaran sebagai organisasi yang di rancang oleh guru
dan menyampaikan pemahaman tentang maklumat atau pengetahuan tertentu kepada
pelajarnya.
ü Menurut
Ehah
1989, menyatakan bahwa pengajaran sebagai satu sains yaitu
sistem aktivi-aktivi yang di tujukankepada murid-murid yang bertujuan membawa
perubahan tingkah laku di kalangan mereka.
ü Menurut
Yaxley 1991, berpendapat bahwa pengajaran merupakan satu tindakan
yang bertujuan untuk membawa perubahan dari segi kepercayaan , nilai dan makna.
Ia juga melihatpengajaran sebagai aktivi intelek yang melibatkan , perasaan dan
penilaian.
D.
Struktur
Organisasi Dalam Pendidikan Dan Pengajaran
Dalam definisi perencanaan
di katakan bahwa organisasi pendidikan ada di antara lingkungannya dan tertanam di
dalamnya. Ini berarti organisasi atau lembaga pendidikan tidak dapat dan tidak di benarkan berdiri sendiri terlepas
dari masyarakat lingkungannya.[13]
Struktur Organisasi
pendidikan yang pokok ada dua macam yaitu Sentralisasi
dan beberapa bagian masih diselenggarakan secara Desentraisasi.
Pada umumnya, struktur campuran inilah yang berlaku dikebanyakan negara dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi bangsanya.[14]
a. Struktur Sentralisasi
Di
negara-negara yang organisasi pendidikannya di jalankan secara sentral, yakni
yang kekuasaan dan tanggung jawabnya dipusatkan pada suatu badan di pusat
pemerintahan maka pemerintah daerah kurang sekali atau sama sekali tidak
mengambil bagian dalam administrasi apapun. Segala sesuatu yang
mengenai urusan-urusan pendidikan, dari menentukan kebijakan (poliey) dan
perencanaan, penentuan struktur dan syarat-syarat personel, urusan kepegawaian,
sampai kepada penyelenggaraan bangunan-bangunan sekolah, penentuan kurikulum,
alat-alat pelajaran, soal-soal dan penyelenggaraan ujian-ujian, dan sebagainya.
Semuanya ditentukan dan ditetapkan oleh dan dari pusat. Sedangkan bawahan dan
sekolah-sekolah hanya merupakan pelaksana-pelaksana pasif dan tradisional
semata-mata. Sesuai dengan sistem sentralisasi dalam organisasi pendidikan ini,
kepala sekolah dan guru-guru dalam kekuasaan dan tanggung jawabnya, serta dalam
prosedur-prosedur pelaksanaan tugasnya sangat dibatasi oleh peraturan-peraturan
dan instruksi-instruksi dari pusat yang diterimanya melalui hierarchi
atasannya. Dalam sistem sentralisasi semacam ini, ciri-ciri pokok yang sangat
menonjol adalah keharusan adanya uniformitas (keseragaman) yang sempurna bagi
seluruh daerah di lingkungan negara itu. Keseragaman itu meliputi hampir semua
kegiatan pendidikan, teutama di sekolah-sekolah yang setingkat dan sejenis.
Adapun keburukan/keberatan
yang prinsipal ialah :
1. Bahwa
administrasi yang demikian cenderung kepada sifat-sifat otoriter dan birokratis. Menyebabkab para pelaksana
pendidikan, baik para pengawas maupun kepala sekolah serta guru-guru menjadi
orang-orang yang pasif dan bekerja secara rutin dan tradisional belaka.
2. Organisasi
dan administrasi berjalan sangat kaku dan seret, disebabkan oleh garis-garis
komunikasi antara sekolah dan pusat sangat panjang dan berbelit-belit, sehingga
kelancaran penyelesaian persoalan-persoalan kurang dapat terjamin.
3. Karena
terlalu banyak kekuasaan dan pengawasan sentral, timbul penghalang penghalang
bagi inisiatif setempat, dan mengakibatkan uniformalitas yang mekanis dalam
administrasi pendidikan, yang biasanya hanya mampu untuk sekedar hanya membawa
hasil-hasil pendidikan yang sedang atau sedikit saja.
b. Struktur Desentralisasi
Di negara-negara yang
organisasi pendidikannya di-desentralisasi, pendidikan bukan urusan pemerintah
pusat, melainkan menjadi
tanggung jawab pemerintah daerah dan rakyat setempat. Penyelenggaraan dan
pengawasan sekolah-sekolah pun berada sepenuhnya dalam tangan penguasa daerah.
Kemudian pemerintah daerah membagi-bagikan lagi kekuasaannya kepada daerah yang
lebih kecil lagi, seperti kabupaten/kotapraja, distrik, kecamatan dan
seterusnya dalam penyelengaraan dan pembangunan sekolah, sesuai dengan
kemampuan, kondisi-kondisi, dan kebutuhan masing-msing. Tiap daerah atau wilayah
diberi otonomi yang sangat luas yang meliputi penentuan anggaran biaya,
rencana-rencana pendidikan, penentuan personel/guru, gaji guru-guru pegawai
sekolah, buku-buku pelajaran, juga tentang pembangunan, pemakaian serta
pemeliharaan gedung sekolah. Dengan struktur organisasi pendidikan yang
dijalankan secara desentralisasi seperti ini, kepala sekolah tidak semata-mata
merupakan seorang guru kepala, tetapi seorang pemimpin, profesional
dengan tanggung jawab yang luas dan langsung terhadap hasil-hasil yang dicapai
oleh sekolahnya. Ia bertanggung jawab langsung terhadap pemerintahan dan
masyarakat awasan dan social-control yang langsung dari pemerintahan dan
masyarakat setempat. Hal ini disebabkab karena kepala sekolah dan guru-guru
adalah petugas-petugas atau karyawan-karyawan pendidik yang dipilih, diangkat,
dan diberhentikan oleh pemerintah daerah setempat. Tentu saja, sistem
desentralisasi yang ekstrim seperti ini ada kebaikan dan keburukannya.
Beberapa kebaikan yang mungkin terjadi ialah :
1. Pendidikan dan pengajaran dapat disesuaikan dengan
memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
2. Kemungkinan adanya persaingan yang sehat diantara daerah
atau wilayah sehingga masing-masing berlomba-lomba untuk menyelenggarakan
sekolah dan pendidikan yang baik.
3. Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas-petugas pendidikan
yang lain akan bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh karena dibiayai dan
dijamin hidupnya oleh pemerintah dan masyarakat setempat. [15]
Adapun
keburukannya adalah sebagai berikut :
1. Karena
otonomi yang sangat luas, kemungkinan program pendidikan akan berbeda-beda.
Hal ini akan menimbulkan perpecahan bangsa.
2. Hasil pendidikan dan pengajaran tiap-tiap daerah atau
wilayah sangat berbeda-beda, baik mutu, sifat maupun jenisnya, sehingga
menyulitkan bagi pribadi murid dalam mempraktekkan pengetahuan atau
kecakapannya dikemudian hari di dalam masyarakat yang lebih luas.
3. Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas pendidikan lainnya
cenderung untuk menjadi karyawan-karyawan yang materialistis, sedangkan tugas
dan kewajiban guru pada umumnya lain dari pada karyawan-karyawan yang bukan
guru.
4. Penyelenggaraan
dan pembiayaan pendidikan yang diserahkan kepada daerah atau wilayah itu
mungkin akan sangat memberatkan beban mayarakat setempat.[16]
E.
Kinerja Organisasi Pendidikan
Dapat
didefinisikan sebagai sebuah pencapaian hasil atau degree of accomplishtment,
hal ini berarti bahwa, kinerja suatu organisasi itu dapat dilihat dari
tingkatan sejauh mana organisasi dapat mencapai tujuan yang di dasarkan pada
tujuan yang sudah di tetapkan sebelumnya.[17]
Kinerja pendidikan pada hakikatnya merupakan perwujudan dari cara kerja yang
baik yang menyangkut kemampuan pendidik di dalam melaksanakan tugas, baik dalam
melaksanakan pengendalian mutu maupun pelaksanaan evaluasi dalam program.
Kinerja yang baik di pengaruhi oleh beberapa faktor utama adalah iklim
organisasi yang selanjutnya mempengaruhi kinerja oraganisasi pendidikan.[18]
Menurut
Notomirjo 1992, menyatakan bahwa kinerja (performance) atau
prestasi kerja atas pencapaian kerja adalah suatu kemampuan yang di ukur
berdasarkan pelaksanaan tugas sesuai dengan uraian tugasnya.
Indonesia merupakan salah
satu negara yang dewasa ini sedang giat-giatnya membangun. Salah satu sektor
penting dalam pembangunan adalah sektor pendidikan. Undang-undang Dasar tahun
1945 menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan
pendidikan. Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional telah
melakukan usaha-usaha perbaikan dalam pencapaian pendidikan yang ada dan untuk mempersiapkan
sumber daya manusia yang berkualitas.
Pada awal abad 21 ini,
dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar ;
Pertama, Sebagai akibat dari krisis ekonomi dunia
pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan
pendidikan yang telah dicapai.
Kedua, Untuk mengantisipasi era global dunia
pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar
mampu bersaing di pasar kerja global.
Ketiga, Sejalan dengan berlakunya otonomi daerah,
perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional sehingga
dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis (www.depdiknas.go.id).
Dari ketiga tantangan
tersebut di atas, maka kinerja guru sangatlah diperlukan untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia. Kinerja guru merupakan faktor penting dalam
menentukan prestasi belajar siswa. Keberhasilan pendidikan terutama ditentukan
oleh mutu gurunya. Pada umumnya pekerjaan guru dibagi dua yaitu : pekerjaan
yang berhubungan dengan tugas-tugas mengajar dan mendidik, serta tugas-tugas
kemasyarakatan (sosial).
Faktor yang juga
mempengaruhi kepuasan kerja dan kinerja guru menurut Herlina (2005)
adalah motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi merupakan suatu karakteristik
kepribadian yang penting dalam lingkungan organisasi, yang ditandai dengan
adanya dorongan pada individu untuk mengungguli orang lain, berprestasi sesuai
dengan seperangkat standar yang berlaku dan berjuang untuk sukses. Motivasi
merupakan komoditi yang sangat diperlukan oleh semua orang termasuk guru.
Motivasi berprestasi bisa terjadi jika guru mempunyai kebanggaan akan
keberhasilan.
Motivasi
berprestasi dalam dunia pendidikan merupakan kombinasi dari tiga faktor yaitu:
ü faktor
keberhasilan pendidikan;
ü keberhasilan
dalam melaksanakan tugas; dan
ü pengalaman
sukses/gagal dalam pelaksanaan tugas (Falahy, 2005).
Berdasarkan dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi adalah dorongan yang berasal
dari dalam diri orang-orang untuk berprestasi dan
berusaha berprestasi dalam upaya untuk
mencapai tujuan. Guru-guru akan bekerja lebih baik jika mereka sungguh-sungguh
diberi motivasi.
Guru-guru yang berhasil
karena adanya motivasi berprestasi akan memberikan sumbangan yang berharga
kepada pendidikan.
Prestasi dari sebuah kinerja akan di tentukan oleh kemampuan seorang pemimpin
dalam memimpin sebuah organisasi, peranan pengawasan dalam peningkatan kinerja
sangat penting. Seorang pemimpin harus mampu menguasai personal untuk
memberikan pelayanan pembinaan. bentuk pembinaan yang efektif hendaknya
di lakukan kegiatan pengawasan secara kontinuitas.[19]
F.
Iklim
Dan Budaya Organisasi Pendidikan
Iklim organisasi menurut Robbins
(1994) mengemukakan bahwa suatu organisasi merupakan kesatuan sosial yang di koordinasikan secara sadar dengan
suatu batasan yang relative dapat di identifikasi, relatif bekerja terus menerus untukmencapai suatu
tujuan atau sekelompok tujuan. Iklilm organisasi merupakan sekumpulan total
tingkatan dan kualitas faktor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi anggota organisasi yang di ukur melalui
persepsi.
Iklim organisasi menurut Falahy (2005) merupakan sarana bagi guru untuk
melakukan pendekatan dengan lingkungan kerjanya dengan pandangan yang positif.
Iklim organisasi mempunyai kaitan dengan prestasi, motivasi, kepuasan dan
kinerja guru. Jika iklim organisasi kondusif, suasana lingkungan manusia yang
familiar maka akan membuat guru menjadi termotivasi karena puasnya guru
terhadap organisasi. Dan sebaliknya jika iklim tidak kondusif maka
mengakibatkan guru kurang bergairah dalam bekerja.
Iklim dapat mempengaruhi
motivasi, prestasi dan kepuasan kerja. Para pegawai mengharapkan imbalan,
kepuasan, prestasi
atas dasar persepsi mereka terhadap iklim organisasi. Iklim organisasi di
sekolah bisa bergerak dari yang menyenangkan ke netral, sampai dengan tidak
menyenangkan.
Tetapi
pada umumnya kepala sekolah, guru dan pegawai menginginkan iklim yang
menyenangkan karena menyangkut keuntungan seperti prestasi yang lebih baik,
kepuasan kerja dan dapat menimbulkan kinerja yang lebih baik lagi.
Menurut Steers (1980),(Iklim adalah Kepribadian organisasi yang dicerminkan
oleh anggota-anggotanya )[20]
terdapat sepuluh dimensi iklim pada tingkat organisasi secara
keseluruhan, yaitu:
1) Struktur
tugas,
2) Hubungan
imbalan-hukum,
3) Sentralisasi
keputusan,
4) Tekanan
pada prestasi,
5) Tekanan
pada latihan dan pengembangan,
6) Keamanan
vs risiko,
7) Keterbukaan
vs ketertutupan,
8) Status
dan semangat,
9) Pengakuan
dan umpan balik,
10) Kompetensi
dan keluwesan organisasi secara umum.
Iklim yang timbul merupakan
arena penetapan keputusan mengenai prestasi. Jika iklim bermanfaat bagi
kebutuhan individu (misalnya: memperhatikan kepentingan pekerja dan
berorientasi pada prestasi), maka kita dapat mengharapkan tingkah laku – ke
arah tujuan yang tinggi (Falahy, 2005). Sebaliknya jika iklim yang
timbul bertentangan dengan tujuan, kebutuhan dan motivasi pribadi, dapat
diharapkan bahwa prestasi maupun kepuasan kerja akan berkurang.
Iklim organisasi
mempengaruhi perilaku
pendidik yang kemudian mempengaruhi kinerja organisasi pendidikan, maka ada
kontribusi yang positif atau baik maka menghasilkan perilaku dan kinerja organisasi yang positif
dan baik.
Dapat dikatakan pula iklim organisasi merupakan gambaran kolektif yang bersifat
umum terhadap suasana kerja organisasi
yang membentuk harapan dan perasaan seluruh pelajar sehingga organisasi
meningkat.
Iklilm organisasi dapat dilihat dari budaya
organisasi karena di dalam budaya organisasi di bicarakan hal-hal yang
mencakup :[21]
·
Perubahan
organisasi
·
Karakteristik
organisasi
·
Kreasi
·
Contoh-contoh
budaya organisasi dan memelihara atau menjaga organisasi
·
Prinsip-prinsip
organiasasi dan tipe-tipe organisasi.
Salah
satu definisi iklim organisasi adalah
persepsi dari sekumpulan orang terhadap lingkungan
organisasinya. Untuk menjaga iklim organisasi yang kondusif, maka dalam
melakukan eksplorasi menjelajahi ide baru maupun cara baru perlu di sesuaikan
dengan kreatifitas. Dan dapat di simpulkan bahwa iklim organisasi pendidikan
merupakan keadaan di tempat kerja baik fisik maupun non fisik yang mendukung
pelaksanaan tugas dalam organisasi.
Budaya organisasi adalah budaya organisasi yang mengacu pada suatu sistem
pemaknaan bersama yang di anut oleh anggota organisasi dalam bentuk nilai,
tradisi, keyakinan, norma dan cara berpikir unik yang membedakan organisasi itu
dengan organisasi lainnya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peran
yang dijalankan dalam rangka mencapi fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa : “pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab” Organisasi lembaga pendidikan adalah
suatu organisasi yang unik dan komplek karena lembaga pendidikan tersebut merupakan suatu
lembaga penyelenggara pendidikan. Tujuannya adalah menyiapkan peserta didik
menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau
profesional yang dapat menerapkan , mengembangkan , memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan , teknologi, kesenian, serta mengupayakan penggunaannyauntuk
meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kehidupan nasional.
Struktur Organisasi pendidikan yang pokok ada dua macam
yaitu Sentralisasi dan beberapa bagian masih diselenggarakan secara Desentraisasi. Struktur
Organisasi yang digunakan dalam pendidikan atau pengajaran di negara
Indonesia adalahsistem Desentralisasi , yang mana semua perarturan struktural
maupun hal lain dalam dunia pendidikan diatur oleh daerah masing-masing
yang banyak pengaruh positifnya bila dibandingkan dengan sistem sentralisasi
yang berpusat disuatu wilayah.
B. Saran
Sebagai calon pendidik, ada baiknya kita harus mengetahui
system lembaga pendidikan terutama di Indonesia ini, agar kita mengetahui
apa-apa sajakah yang harus dilakukan orang lembaga pendidikan ini, untuk
mengetahuinya itu kita harus rajin membaca. Mungkin dari makalah ini bias membantu
sedikit pengetahuan kita mengenai organisasi lembaga pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Prof.
Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset
Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006)
Prof.
Dr. Syahrizal Abbas .Manajemen perguruan tinggi, (Jakarta : Prenada
Media Grup, 2008 )
Drs.Syafaruddin,M.Pd.Manajemen
Lembaga Pendidikan Islam.Jakarta.Ciputat Press.200
Wanto, manajemen dan pendidikan,
2005, Surabaya ; Tabloid Nyata IV
Made pidarta, Perencanaan
Pendidikan Partisipatori dengan Pendekatan Sistem, 1990, Jakarta ; Rineka
Cipta
Ngalim Purwanto, Administrasi dan
Supervisi Pendidikan, 2012, Bandung; PT Remaja Rosdakarya
Wirawan, Budaya dan Iklim
Organisasi Teori Aplikasi dan Penelitian, 2008, Jakarta ; Salemba Empat
Tabloid-mh/2011/10/01/peningkatan
kinerja organisasi
Prof. Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T.
Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara,
2006),
Wirawan, Budaya dan Iklim
organisasi, 2007, Jakarta ; Salemba Empat
[1] Prof.
Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset
Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), cet.1, Halaman 126
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] Prof.
Dr. Syahrizal Abbas .Manajemen perguruan tinggi, (Jakarta : Prenada
Media Grup, 2008 ), cet.1, Halaman 5
[6]
Drs.Syafaruddin,M.Pd.Manajemen Lembaga
Pendidikan Islam.Jakarta.Ciputat Press.200
[8] Ibid
[9] Drs.Syafaruddin,M.Pd.Manajemen Lembaga Pendidikan Islam.Jakarta.Ciputat
Press.200
[13]
Made pidarta, Perencanaan
Pendidikan Partisipatori dengan Pendekatan Sistem, 1990, Jakarta ; Rineka
Cipta
[16] Ibid
[18] Wirawan,
Budaya dan Iklim Organisasi Teori Aplikasi dan Penelitian, 2008, Jakarta ;
Salemba Empat
[20] Prof. Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T. Manajemen
Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006),
cet.1, Halaman 182
[21] Wirawan, Budaya dan Iklim organisasi,
2007, Jakarta ; Salemba Empat
No comments:
Post a Comment